Penghuni Baru (Empat Belas)



“Dimana, Nak?” terdengar suara seorang wanita yang telah beranjak tua nan jauh di sana. Wanita itu tentu saja Ibuku. Seorang Ibu tempat aku mengeluh kisah kasih selama berstatus anak kost. Ibu tempat aku meminta, uang pastinya. 70% biaya hidupku ada di tangan wanita tua itu. Ibu wanita terhebat, ia takkan terkalah oleh apa pun. Aku bertahan karna Ibu. Aku semangat hidup karna Ibu.
“Di rumah, Mak,” segera ku jawab pertanyaan mama.
“Mama, ada hadiah untuk kamu, mau?”
Pertanyaan mama membuat aku penasaran tingkat kritis. Hadiah? Untuk siapa? Aku? Aku lahir bulan Desember, Nah lho…sekarang bulan Juli. Sedikit menyita energi untuk menggerakkan bintang-bintang itu. “Hadiah apa, Mak?”
“Sahabat untuk menemani hari-hari sendirimu.”
Sahabat, apa mungkin mama akan mengirim seseorang untuk menemaniku. Orang itu mau tinggal denganku? Apa tujuan mama. Bukankah sepupu dan adikku sudah menemukan tempat lain untuk melanjutkan studinya. “Siapa Mak?”
“Tunggu saja, minggu depan Mama kesana.”
Mama telah membuatku penasaran. Apapun itu, siapa pun itu. Aku akan menunggu. Satu minggu lagi. Semoga manusia itu akan menemani ku dengan tulus. Ikhlas dan setia.
Menunggu itu penyakit paling membosankan. Dua hari selanjutnya, aku kembali menelpon Mama dan menanyakan keberadaan manusia yang di sebut-sebut akan menjadi sahabatku. Berulang kali aku bertanya, Mama hanya tertawa. Sabar, itulah ucapan Mama.
Hari-hariku diliputi rasa penasaran. Ah…lama sekali jam itu berputar. Mama emang Ibu paling keren. Ia berhasil membuatku mati kegalauan. Setiap aku menelpon, Mama hanya menertawakan aku, mengejek, bahkan menggoda aku. Diam sajalah. Terus harus ngapain. Aku hanya bisa mengencutkan bibir. Pura-pura tidak tergoda.
***
Putra Pelangi, bus yang akan di tumpangi Mama untuk dapat menatapku secara langsung. Keberangkatan Mama pada malam hari, pukul 22.00. Beliau berangkat dengan sang Bapak. Huff…si Bapak, selama pensiun menjadi statusnya, satu hari pun tidak bisa di tinggalin Mama. Kemana pun Mama pergi, pasti ngekor. Wah…wah…aku tau, Bapak cemburu.
***
Mataku terus melotot keluar. Dimana dia? Kenapa hanya ada Mama dan Bapak yang berdiri di depan pintu. “Mak, mana?”
“Apanya, Nak?” tanya Mama pura-pura tidak sadar.
“Jadi, sampai jam berapa Mama harus berdiri diluar? gak mau cium tangan.”
Waduh…Lupa. Aku mengabaikan mereka. Maaf. Tapi dimana dia. Aku terus mencari si penghuni baru rumahku. Aku beranjak keluar, jalan tanpa sandal. Mama terdiam dan memilih duduk di kursi teras depan. Mereka menatapku dalam. Dan sedikit tertawa.
“Ini, sahabatmu,” Mama berdiri dan menunjukkan kardus kotak minum itu kearahku.
Aku tercengang, membisu sesaat. Aku kembali melirik kardus itu, sekali-kali menatap wajah Mama dan Bapak secara bergantian. Ah…mereka mulai bercanda lagi. “Apa itu, Mak?” tanya ku dan mengambil kardus.
“Jangan…! Hati-hati,” teriaknya.
Aku terpatung di tengah ributnya angin yang mulai mengipas-ngipas jilbab. “Mama, kaget aku.”
“Oh…jadi…sahabatku?” aku terbanta-banta bertanya.
Sahabatku sangat mungil, kecil, halus, bulunya dua warna, ekornya yang panjang, sesekali ia mengeluarkan suara. Siapakah dia? Ternyata penghuni rumah dan sekaligus sahabatku bukan seorang manusia biasa. Dia dua ekor binatang yang cukup menghibur di saat lelah. Tupai, itulah mereka. mereka seperti sepasang kekasih.
Tupai itu pemberian seseorang yang sangat di kenal oleh keluargaku. seorang lelaki yang sudah sangat akrab dengan Mama dan Bapak, ia orang terpenting bagi kakak ku. Yang terpenting, terima kasih karna sudah mengirim dua ekor penghuni baru di rumah kesepian ini.
Uniknya tupai itu, mereka hanya suka pada buah yang berasa manis. Cerry, mangga, bengkoang, pepaya, itu makanan sehari-harinya. Menyisihkan sedikit uang jajan, tidak masalah. Asalkan mereka senang.
Pulang kuliah, lelah beraktifitas. Hanya duduk di depan kandangnya sambil menatap si tupai loncat-loncat. Itu sangat menghibur.



astina ria

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

2 komentar: