Coretan SP (Empat Belas)



Hujan menyambut sore ini. Segelas kopi menemaniku. Tetesan hujan satu persatu terhitung. Dibalik jendela kecil ini aku memandang langit. Ah… hari-hariku sunguh indah. Pohon ubi, pepaya, cabai, dan rerumputan ikut menari mewarnai soreku. Angin mencoba menutupi mata.
The power of the dream. Ditemani lagu kecintaan saat-saat sendirian. Kawan, dimana? Ah…aku sungguh lapar. Sekilas terkenang perjuangan kita. Kita, yah…bisa dikatakan kawanan musafir yang menanti jawaban di balik kata “Bentrok Wassalam.”
            Menunggu, berdesakan, bahkan terdorong-dorong. Itulah yang kita alami dua hari yang lalu. Pengalaman pertama yang sangat mengesankan. Kau tau kawan? Lihatlah aku. Antrian itu, sungguh aku membencinya. Dorongan lelaki-lelaki yang kehausan akan sesuatu, tak luput aku hindari.
Dibawah terik matahari. Segala macam bau telah bercampur jadi satu. Teriakan sana-sini. Bicara mereka dengan bahasa planet. Aku Cuma bisa diam. Hingga akhirnya aku merasakan sesuatu. Yah…sesuatu yang akan di keluarkan oleh perutku. Aku menyerah.
            Kupanggil seseorang untuk menggantikan aku. Dian, wanita bertubuh tinggi itu bagaikan bodyguard untuk adik-adiknya. ku. Jauh dari orang tua dan keluarga, sungguh aku kesepian. Tinggal di rumah 4 x 6 ini dengan seorang abang. Syukurlah, kehadiran mereka membuat aku bisa tertawa lepas, mengenal hal-hal baru, bahkan bersikap layaknya kami seorang anak kecil.
Tarzan, kalian tau kah siapa dia? Nama lengkapnya Aynani Tajrian. Ibu wassalam bilang, Aynani Say…Tan…hahaha. Itulah panggilan baru kami. Panggilan itu di cetuskan oleh pegawai RKU tempat kami mengantri SP.
Pertempuran di mulai hari kamis lalu. Aku, tami, dian, nani, helvi, napis, dan melvi. Keluargaku yang lain masih di kampung, maklumlah orang kampung. Pagi itu jam 7 pagi aku baru tiba dari kota halaman. Dua jam kemudian aku menyusul mereka yang telah siap bertempur. Peperangan di mulai di Prodi Kimia.
Di prodi kami menang, alhasil pertempuran di lanjutkan ke Bank. Wah…melihatnya saja aku kelaparan. Antrian panjang hingga keluar pagar…hahah alay. Kalian taukah? Setiap mereka yang mengantri menggantongi uang minimal tiga ratus ribu. Coba bayangkan dengan jumlah antrian yang membludakkan Bank. Setidaknya 1M tidak kemana.
Pertualangan itu tidak berakhir di kamis sore. Jumat jam delapan pagi, perang antrian dimulai. Baju pink yang ku pakai, setidaknya membuatku bertahan dalam antrian karena berbagai macam asesoris tubuh yang di miliki pengantri. Panas matahari menusuk tulang-tulangku. Mengajak si keringat untuk keluar. Selama antrian, aku lebih banyak menutup mata.
Ah…mata kuliah “MKU” itu tidak rela berpisah dari kami. Lagi-lagi berurusan dengannya. Jadwal kuliah IAD dan ISBD bentrok. Berulang kali harus menghadapi si ibu. Hingga tercetuslah sebutan gokil untuk wanita itu “bentrok wassalam”… panggilan ini akan jadi kenangan kita, kawan. Jika suatu saat kita harus berpisah, jangan pernah lupakan kenangan ini.
Hari ini kami kembali berkumpul di kampus, wanita kampung “syuhada” sudah kembali. Tak ada yang berubah darinya. Ketawanya masih seperti dulu, gaya vampire. Oleh-olehnya belum terjamah oleh kami. “Kripik syuhada, ayo kita habiskan besok.”
Empat belas, itulah jumlah kawanan musafir ini yang mencari masa depan dan kebahagian di Unsyiah. Layaknya sebuah keluarga, aku memiliki seorang ibu, Nupus namanya. Aan, Memel, Tami, misyu, Tarzan, Pipis,  Helvi si adik bungsu, Yanti, Yuni, wizar, Ita, tety, mereka keluarga besarku.

“ Latar/setting cerita, nama, tokoh, tempat, dan semuanya yang terlibat hanyalah kenyataan semata dan untuk hiburan”


Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar