Bubar goncangkan Lesehan 12 (Empat Belas)

Huff…capek. Perjalanan ini terasa  sangat menyenangkan. Sayang engkau tak duduk disampingku kawan. Banyak cerita yang mestinya kau saksikan. Di tanah kering bebatuan. Burung-burungpun bernyanyi. Bunga-bunga pun tersenyum. Melihat kau hibur hatiku. Hatiku mekar kembali. Terhibur simphoni. Pasti hidupku kan bahagia.
Empat belas episode dua. Ramadhan ke tujuh, 16 Juli 2013. Segerombolan manusia itu kembali menghangat dan meramaikan suasana. Mbak moel, kali ini aku dan 13 bocak itu mengacaukan lesehan 12. Bising, riuh, berlomba-lomba mengeluarkan suara paling keras, teriak sana sini.
Nyanyian hujan menambah keramaian dan kehangatannya sore itu. Menunggu waktu tabuh berbunyi. Alunan suara-suara indah itu tak berhenti begitu saja. Mereka, melihat tawa canda celoteh dan komat-kamit mulut itu, aku bahagia. Mencari suasana baru di tengah-tengah terhimpitnya hati dan pikiran.
Cepat rasanya waktu itu berlalu. Di tempat tidur ini, di temani bantal dan nyayian Fathin. Aku kembali mengenang masa-masa yang telah terlewatkan tiga jam yang lalu. Tersenyum sendiri. Hmn…si tupai itu, jangan heran melihat ku, malam ini aku benar-benar jadi gila.
Satu jam sebelum berbuka. Aku, tarjan, dan mbak syu  sebagai pembuka lesehan 12 pertama. Menikmati suasana hujan, lumba-lumba yang tersiram air raksa berubah menjadi patung dengan semprotan air mancur, kuda-kuda yang di sulap jadi mainan, ayunan, ikan-ikan yang tak puasa, bunga dan pohon tertawa di hiasi lambaian daunnya.
Aku kembali menatap langit. Sinar matahari terlihat semakin malu menatap kami. Rembulan itu, apakah ia sudah berkemas untuk menyapaku. Beberapa menit berlalu. Beberapa wanita berkerudung itu menampakkan diri. Mamak nupus, dian, yanti, tami, helvi, ita, sri, wahyuni. Belum lengkap, dua bocak lagi belum memperdengarkan suara kakinya.
Menunggu. Meskipun waktu berbuka puasa akan segera tiba. Tapi, inilah uniknya si kawanan bocah kesepian itu. Huufff… jangan mengelak, kalian kesepiankan? Kalian kangen orang tua kan? hahhahaha……………………………. Aku juga. Si Yanti kali ini benar-benar jadi biang kerok, sumber polusi. Yanti awalnya diam, tapi setelah menyesuaikan diri terhadap lingkungan, bocah itu kembali berkoak-koak. Tawanan dan cekikannya telah mencemari kawanan penghuni lesehan 12 itu. Bahkan lingkungan pun ikut tercemar olehnya.
Si Tami, wanita manis itu kembali mengganggu si abang pengantar ayam. Si abang ayam kembali tersipu malu akibat godaan dan rayuan bombastisnya tami. Huff… tami belu buka puasa, ntar batal lho…!!!
Tibalah saatnya di melvi dan si badra pipis nonggol, badra pipis dengan tubuhnya semakin langsung, dan si melvi dengan jumlah penghuni wajahnya kian bertambah. Lima menit sebelum berbuka, suara cekikan itu belum punah.
Seketika hening, di tengah-tengah lahapnya santapan ayam bakar dan ayam siram pun suara cekikan itu kembali mengaung-ngaung di lapisan atmosfer. Ditambah dengan kimchi buatan dian, yang bikin kawanan ini tercipit-cipitkan matanya. Ita dan di adik bungsu, helvi. Entah virus apa yang berhasil menusuk bibirnya untuk tersenyum dan tertawa. Semuanya bertepuk tangan, karna kami berhasil mengeluarkan suara mereka dari kediamannya yang gelap itu. Si Yanti, penggila abang IAD itu, terus-menerus ia memuji dan menyebut-nyebut namanya. Ahh…jangan tanya padaku, aku tidak mengingat nama mereka, bahkan wajahnya pun aku lupa.
Setelah santapan itu tewas mengenaskan. Kami melanjutkan shalat magrib. Ramainya orang berbuka puasa di luar. Seusai shalat, aku dan teman-teman kembali membuat kejutan yang akan mengantungkan jantung mereka. wahyuni, dian, ita, sri dan badra pipis ultah. Kue bolu di hiasi asesoris yang kian menggugah selera. Mises ceres itu, aku ngiler. Suasana gaduh. Tepuk tangan semakin menggetarkan lesehan 12 itu. Keharuan dan lelehan air mata kian melinangkan.
Ntaraaaa……wahyuni, dengan segala hormat kami mempersilahkan saudari wahyuni untuk menyampaikan kata-kata keabadian dan doa. Haha…
Wahyuni memulai dengan dua kata awal. Empat belas…………… kami semua mengaminkan.
Kata-kata selanjutnya di pimpin oleh saudari Dian. Hah, dian bikin rese’. Bagaimana bisa dia bilang, kalau ultahnya salah dan belum terjadi. Penghuni planet bumi itu ada-ada saja.
Sri, cuma jawab 3 kalimat. Semoga IP  bagus. Badra pipis dan ita, ahh…gaya mereka sungguh aneh. Kalo di hitung di lihat dan terawang, belum lolos jadi seorang guru professional.

jika aku mengawalinya dengan dua buah lagu, maka akan aku akhiri dengan sebuah lagu: Selama mata terbuka. Sampai jantung tak berdetak. Selama itu pun aku mampu tuk mengenangmu. Darimu. Kutemukan hidupku. Bagiku kau lah cinta sejati. Bila yang tertulis untukku. Adalah yang terbaik untukmu. Kan kujadikan kau kenangan. Yang terindah dalam hidupku.. Namun takkan mudah bagiku. Meninggalkan jejak hidupku. Yang tlah terukir abadi. Sebagai kenangan yang terindah





Astinaria.com

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar