Senin, 03 Desember 2018

Marimas Ecobrick yang Peduli Masa Depan


Anak kecil selalu mendapat nasehat dari gurunya untuk membuang sampah di tempat yang telah disediakan. Mereka diajarkan agar membuang sampah berdasarkan pemilahan. Karena sekolah dan beberapa tempat umum mulai disediakan tong sampah berdasarkan kualifikasinya. Namun, tidak semua nasehat yang mereka dapatkan akan diimplementasi dalam kehidupan sehari-hari, kenapa? Karena orang dewasa tidak melakukan itu.
Kejadian di atas kerap saya temui. Hal ini sering saya tanyakan kepada mereka ketika di sekolah. Tentu jawaban lantangnya ialah karena orang dewasa saja melakukan itu. Lantas haruskah kita tetap berdiam diri!
Ngomongin permasalahan sampah emang tidak pernah habisnya. Namun, dibalik omongan kita, ternyata ada yang sudah langsung bergerak untuk meminimalisir permasalahan sampah ini. Mereka adalah orang yang tidak sekedar bicara, tetapi langsung pembuktian.
Di Banda Aceh, aku kenal beberapa orang yang memiliki kepedulian cukup mendalam dalam penanggulangan sampah. Kebetulan aku-nya sendiri saat ini sudah tergabung dalam suatu komunitas yang peduli lingkungan. Bagiku, mereka adalah orang-orang hebat yang membuktikan omongan bukan sekedar omongan. Mereka terkadang menjadi orang asing yang langsung turun ke lapangan. Bukan yang duduk manis lalu membicarakan permasalahan lingkungan.
Yose Risal, sosok teman yang baru ku kenal tahun lalu. Kita bertemu dalam suatu kegiatan, Camping Education di Pulo Aceh. Diantara semua orang, aku melihat ia sosok yang berbeda. Ia tidak akan pernah meninggalkan suatu tempat tanpa mengutip dan mengumpulkan sampah. Terkadang sampah tersebut dirangkulnya untuk dibawa pulang hingga menemukan tempat sampah yang telah disediakan. Yose bergerak sendiri, atas niat tulus, hingga beberapa temannya yang lainnya mulai membiasakan hal yang sama seperti Yose. 

Yose Rizal dan Teman-temannya saat mengunjungi salah salah satu tempat wisata di Aceh (Sumber foto: Instagram @yose8rz)

Begitu juga dengan Ririn. Siswa yang menggagas Bank Sampah yang menggerakkannya dengan anak-anak setempat di Gampong Nusa, Aceh Besar. Pada dasarnya anak-anak seusia mereka menikmati Weekend Day dengan bermain. Namun itu tidak berlaku bagi Ririn. Ia dan teman-temannya malah mengumpulkan sampah. Sampah tersebut dipilah, lalu dijual. Hasil pendapatan penjualan, mereka tabung.
Benar, peduli lingkungan emang dimulai dari diri sendiri. Namun, jika satu orang yang peduli, sedangkan sepuluh lainnya yang mengotori, maka hasilnya tidak berbanding lurus. Maka, bergerak lewat komunitas, lewat perkumpulan, lewat suatu gerakan yang berkesinambungan, maka semuanya bisa jadi mungkin.
Seperti yang dilakukan oleh teman-teman yang bergabung dalam komunitas Ecobricks. Ecobricks yaitu suatu metode untuk meminimalisir sampah dengan media botol plastik. Botol plastik ini kemudian diisi oleh sampah plastik seperti kantong plastik kresek, bungkusan dan semuanya yang berbahan plastik. Sampah anorganik ini kemudian dimasukkan hingga benar-benar padat agar tidak mudah pecah.
Apa sih tujuan Ecobricks ini? Jadi, Ecobricks ini adalah salah satu cara yang dilakukan untuk mengurangi sampah plastik. Anda pasti pernah dengar dong, kalau sampah plastik itu membutuhkan waktu hingga 200 tahun agar benar-benar membusuk di alam. makanya mendaur ulang sampah plastik sangat besar manfaar dan kegunaannya. 

 Ada banyak manfaatnya, mau tahu?
1.    Pembuatan meja
Biasanya bahan dasar pembuatan meja adalah kayu. Nah, kali ini dengan memanfaatkan Ecobricks kita bisa menjadikannya sebagai penahan/kaki meja. Dijamin ketahanannya akan lama. Selain menghemat biaya untuk membeli kayu, Ecobricks juga memiliki nilai seni yang cukup tinggi. hitung-hitung untuk menyelamatkan alam Indonesia yang kian hari semakin berkurang penghasil SDA.

2.    Kursi
Sama halnya dengan meja. Kursi juga bisa diolah dari Ecobricks. Oleh sebab itu, pengisian sampah plastik ke dalam botol plastik harus benar-benar padat. Biar tidak mudah pecah walaupun diduduki oleh kita yang bertubuh besar.
Seorang anak membuat Ecobricks dan menjadikannya sebagai tempat duduk/ kursi (Sumber Foto: Screenshoot dari video Youtube NET.Yogya)

3.    Tembok/Dinding
Mungkin Anda pernah melihat rumah-rumah minimalis yang menggunakan botol kaca sebagai dinding, atau meletakkan bambu yang dipotong melingkar sebagai pembatas dinding. Nah, Ecobricks juga memiliki nilai kesenian yang tinggi. agar terlihat indah, maka gunakan ukuran botol yang sama, dan sampah plastik yang dimasukkan ke dalam botol juga harus diukur nilai seninya. Satu lagi, berat Ecobricks harus mencapai 200 gram, tujuannya agar tahan lama. Gampang kan?

  Ecobrick yang disusun rapi menjadi tembok/ dinding (Sumber Foto: Screenshoot dari video Youtube CNN TV)

4.    Produk kesenian yang memiliki nilai jual
Sebenarnya untuk memiliki skil dibidang kesenian, apalagi untuk membuat Ecobricks ini, kita tidak perlu kuliah atau menempuh pendidikan di bidang kesenian, karena yang paling dibutuhkan adalah kemauan untuk menciptakan perubahan. Modal ini saja sebenarnya sudah cukup. Niat yang paling utama.

Russel Maier, bule asal Kanada yang sudah lama tinggal di Indonesia, dikenal sebagai penggagas Ecobricks. Ia bersama istrinya Ani Himawati bergerak membuktikan bahwa sampah plastik dapat dikurangi hanya dengan Ecobricks. Inovasi yang sederhana dan mudah, namun memiliki nilai yang tinggi.

Russel Maier dan Ani Himawati Sang Penggagas Ecobricks (Sumber Foto: Screenshoot dari video Youtube CNN TV)

Di tempat lain juga mulai muncul komunitas-komunitas yang bergerak melalui Ecobricks. Sri Martini melalui komunitasnya JPSM. Ia dan rekan-rekannya hadir dengan membuktikan bahwa Ecobricks bisa dilakukan oleh siapa saja. Kalau bukan kita, siapa lagi yang ditunggu!

Ibu Sri Martini ketua komunitas Ecobricks JPSM  (Sumber Foto: Screenshoot dari video Youtube NET.YOGYA)



Tutorial pembuatannya gampang banget !

Langkah 1. Kumpulkan sampah plastik yang ada di tempat-tempat pembuangan sampah, lalu cuci hingga bersih, dan ditunggu sampai air mengering.

Langkah 2. masukkan sampah plastik ke dalam botol, tekan sekuatnya hingga padat.



Langkah 3. Tekan sampai benar-benar padat. gunakan varian warna untuk menampilkan nilai estetika yang indah.





Minggu, 11 November 2018

Salurkan Cinta Anda Lewat TCASH #BuatKamu


Setiap orang pernah mengalami masa sulit dalam hidupnya. Kesulitan, kehilangan, kesedihan, atau disakiti oleh orang-orang yang kita percaya. Semua bisa saja terjadi. Tidak ada yang tahu. Kapan dan di mana. Karena hidup adalah berproses. Berproses menjadi baik atau malah sebaliknya.

Namun, saya yakin. Bahwa kesulitan itu tidak akan bertahan lama. Tuhan (Allah SWT) tidak sekejam itu untuk menghukum hamba-Nya. Tuhan punya rencana di balik semua ini. Hanya kita yang kadang tidak menyadarinya.

Lihat lah disekeliling. Bukan hanya saya. Bukan juga Anda. Tetapi semua orang punya masa sulit itu. Bahkan ada yang lebih sulit dari kita. Hari ini, saat Anda membaca tulisan saya, ketahuilah bahwa pada detik ini juga ada seseorang yang ingin menyerah pada hidup. Di detik ini ada yang sedang menangis tersedu-sedu karena kehilangan orang yang mereka cintai. Dan di detik ini pula ada anak-anak, Ibu tua, Kakek rentan, yang sedang berjuang keras untuk hidup. Namun, tahu kah? Bahwa pada detik ini ada yang bahagia karena kehadiran Anda.

Hidup itu bukan seperti angka satu. Saya tidak sendiri. Anda juga tidak sendiri. Jika mengakhiri hidup adalah pilihan. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang kita tinggalkan? Air mata Ibu, Ayah, keluarga, sahabat, kekasih, orang-orang yang sayang, tidak akan mudah mengering dan melupakan begitu saja. Kehidupan mereka pun akan hancur karena keegoisan Anda.

 Anda tidak akan tahu, bagaimana jika hari esok Anda adalah orang yang paling berpengaruh dalam kebaikan. Anda menjadi motivator bagi orang-orang yang hidupnya seperti Anda kala dulu. Percayalah, ini tidak akan lama. Bisa jadi lima tahun lagi Anda akan menjadi orang hebat. Karena hidup tidak selamanya di atas, pun tidak selamanya di bawah. Give up or rise up?

Ini juga terjadi kepada saya. Jika saya ingin menyerah, kenapa harus sekarang? Kenapa tidak dari lima tahun lalu saat masalah itu bermula. Jadi menyerah di tengah jalan hanya akan membuat saya mati sia-sia. Orang-orang akan mengenang saya sebagai pengecut. Pecundang. Takut pada sesuatu yang belum pasti.  

Syukur kepada Allah, saya mampu melewati ini semua dengan sabar dan ikhlas. Meskipun hari-hari dihantui oleh rasa takut, amarah, kesal, kehilangan, namun Allah selalu punya cara untuk mempertemukan saya dengan orang lain, mereka yang membuat senyum itu kembali. Sejatinya manusia yang terlahir ke dunia ini selalu punya masalah. Ingin hidup di dunia, saya harus siap pula untuk setiap masalah yang datang bergantian.

Anak-anak di Taman Baca Jambo Minda. Gunakan TCASH untuk membeli buku di toko buku terdekat. Bantu mereka, Bantu Indonesia. (Taken: Inun)
Lihat dan rasakan bahwa selalu ada saja orang yang hadir untuk membuat kita bangkit. Selalu belajar dari orang-orang sekitar, mereka saja mampu. Kenapa saya tidak? Karena merekalah motivator yang menolong saya untuk terus rise up.

 Yaa. They are my inspiration. Lewat senyum mereka menyakinkan saya bahwa setiap yang pergi pasti Allah datangkan yang lebih baik. Setiap yang hilang, semua akan tergantikan oleh hadiah besar. Kita hanya perlu menunggu dan ikhtiar. Benar! ini semua tidak mudah. Butuh waktu yang lama. Jadi pelan-pelan saja. Jangan tergesa-gesa. Yakin pada diri bahwa saya pasti bisa!


Senyum girang anak jalanan. Nenek dan kakek yang berjuang di Panti Jompo. anak-anak di usia yang masih kecil sudah kehilangan orang tua. Fakir miskin, untuk membeli segenggam beras saja butuh keringat yang bercucuran. Adik-adik tidak bisa sekolah karena harus membantu keluarga mencari nafkah. Lihat? Mereka masih terus melanjutkan hidup. Mereka terus berjuang. Karena mereka yakin, sesudah ini akan ada hadiah terindah.

It’s My Inspiration. Saya belajar dari mereka. ketika berangkat kerja dan selepas pulang, saya selalu mengambil jalur yang membawa saya untuk melihat rumah-rumah mereka, melihat mereka yang sedang bekerja, melihat anak-anak yang berjualan di jalanan walau hujan deras, melewati rumah panti jompo. karena mereka adalah kekuatan saya dalam melanjutkan hidup.
Dan berbagi sesama walau itu sedikit. Kita hidup bukan sendiri, bukan pula untuk sendiri. Maka berbagi adalah salah satu cara agar hidup lebih berarti.

Lansia di Panti Jompo Ulee Kareng, mereka adalah kekuatanku untuk melewati hidup selama di rantau. Melihat mereka, membuatku selalu ingin memeluk Ibu dan membahagiakan Ibu.

Berbagi dengan anak-anak yatim-piatu. Berdonasilah. Semuanya mendatangkan ketenangan dan kebahagian dalam diri saya. Seperti kata Ustadz Yusuf Mansur, Anda ingin keluar dari kesulitan, Anda butuh solusi untuk suatu masalah, Anda membutuhkan sesuatu sedang itu tidak mungkin untuk didapatkan. Maka berbagilah dengan mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Lakukan dengan ikhlas sertai niat sungguh-sungguh.

Awalnya saya tidak percaya. Namun, setelah mencoba, keajaiban benar ada. Bukan hanya untuk diri sendiri, namun untuk orang-orang yang kita selamatkan. Hidup mereka juga menjadi tanggung-jawab kita. coba Anda berpikir, ketika menyalurkan donasi ke orang yang membutuhkan, apa doa dari mereka? ya, mereka berdoa agar kita bahagia dan dimudahkan rezeki. Bukan kah ketenangan jiwa dan raga yang kita peroleh saat ini juga buah hasil dari doa-doa mereka?

“Bila kita melihat raut wajah orang yang tenang jiwanya. Maka ketenangan bukan pada wajahnya. Bila kita melihat orang melangkah dengan tenang dan wibawanya, ketahuilah bahwa ketenangan bukan pada kakinya. Ketahuilah bahwa yang bahagia itu datang dari hati dan iman, “ kata-kata dari Ustadz Abdul Somat semakin menguatkan saya bahwa dibalik rezeki saya ada hak mereka.

Kini, bersama TCASH saya melewati hari-hari dengan mudah. TCASH membuat saya lebih mudah berbagi senyum #BuatKamu. Penggunaan yang praktis juga menjadi salah satu andalan saya kenapa memilih TCASH sebagai jalur beramal.


Saatnya berbagi kebahagian dengan mereka. melalui TCASH, kita juga bisa berdonasi langsung ke tempat-tempat penyaluran amal. Caranya mudah dan praktis. Atau bisa juga membeli makanan atau produk yang mereka butuhkan, lalu salurkan secara langsung. Sekarang, untuk berbuat baik dan membantu sesama akan terasa lebih mudah. Anda mau, Anda pasti bisa!

DI Banda Aceh, TCASH sudah bisa digunakan dibeberapa tempat, seperti Indomaret, Alfamart, Caffe, Restaurant, Gramedia, dan banyak lagi. Semuanya semakin mudah.


Ada Apa Lagi di TCASH?
Nah, di TCASH juga tersedia fitur-fitur menarik untuk memudahkan aktifitas Anda sehari-hari, seperti kirim uang, pengisian pulsa/data, bayar/beli, bayar tagihan listrik, isi token, game/digital, dan donasi. Semuanya jadi mudah dan praktif.




Anda yang belum memiliki TCASH, segera daftarkan di Grapari Telkomsel terdekat, gratis. Ikutin juga instagramnya TCASH untuk mendapatkan informasi ter-update, promo, serta kelebihan menggunakan TCASH. Ingin bertanya seputar TCASH juga bisa, karena pihak TCASH akan melayani Anda dengan santun. Selamat berbagi, tersenyum lewat TCASH.




Jumat, 02 November 2018

Kejadian Unik ini Mungkin Pernah Kamu Lakukan Saat Liburan


Hari ini, untuk kedua kalinya saya kembali menampakkan wajah di kota yang terkenal dengan budayanya, Daerah IstimewaYogyakarta. Dulu sekali, saya pernah punya mimpi untuk melanjutkan studi ke kota rindang ini. Namun, seiring permintaan tuntutan, niat tersebut terpaksa diurung dan memilih untuk bekerja di Ibu Kota Aceh.
Meskipun begitu, Yogyakarta tetap menjadi kota pilihan untuk dinikmati keistimewaannya. Pagi ini, Saya berangkat ke Yogyakarta dengan menggunakan kereta Api Prameks. Dari stasiun Solo Balapan ke stasiun Tugu Yogyakarta hanya dikenakan tarif sebesar Rp. 8.000/orang. Tapi jangan ditanya ongkos pesawat dari Aceh ke Solo, Anda bisa cek sendiri. Hehe..
Tujuan utama ke Yogyakarta adalah untuk mengikuti Festival Film Puskat (FFP) di Studio Audio Visual Puskat, Sleman. Selama tiga hari di sana, saya menghabiskan waktu untuk menambah wawasan seputar perfilman di Indonesia. Banyak orang-orang hebat yang saya temui, mereka adalah sineas-sineas hebat dibalik film keren yang selama ini Anda tonton.
BW. Purbanegara saat mengisi kelas malam di FFP 2018

Di sini, saya tidak banyak membahas seputar perfilman di Indonesia, tetapi lebih kepada wong ndeso-nya saya yang melakukan hal-hal unik selama di Yogyakarta. Di simak dengan hati-hati, ya, mungkin suatu saat, Anda akan mengulangi hal yang sama seperti saya:

Terlihat Berani, Nyatanya Penakut
Sore itu, sekitar pukul 18.00 wib, saya tiba di Studio Audio Visual Puskat, Sleman. Karena kekhawatiran berlebihan dari si Abang, jadinya ia yang mengantarkan saya dari Solo ke Yogyakarta, kira-kira sekitar dua jam perjalanan lamanya.

Tepi sungai Boyong letaknya Tepat di depan kamar saya (source: Instagram : @Puskat_pictures )


Suasana studio cukup romantis sebagai tempat shooting film horor sehingga membuat Abang saya langsung menyuruh balik lagi ke Solo. Setelah diyakinkan oleh penjaga studio dan Ketua Yayasan yang kebetulan sedang berada di tempat, Abang saya semakin tidak yakin.

Luas banget studionya dengan alam yang sejuk (source: Instagram : @Puskat_pictures )

Kata si Abang “Jangan pura-pura berani, ya, na! Besok pagi saja ke sini lagi naik kereta api, kalau tetap juga sepi begini, sorenya langsung balik saja ke Solo!”
Membujuknya tidak juga berhasil, akhirnya saya menyerah dan kembali ke Solo pada malam itu juga. Padahal gak seram-seram amat lah tempatnya, memang sih lokasinya yang super luas dan banyak pohon. Namanya juga studio seni. Melihat mas-mas yang gondrong membuat si Abang tambah menjadi-jadi.Hmm...
Kamar tempat saya dan sineas menginap

Selama tiga malam di sini, untuk menghindari kejadian aneh-aneh, sepanjang malam televisi selalu saya hidupkan di kamar. Padahal ini tempat aman-aman saja, nuansanya saja yang terlihat natural dan seperti di alam terbuka, dan sebenarnya suasana ini bikin ngangenin. Rasanya ingin balik lagi ke sana, tetapi cuma untuk meditasi saja.





Makanannya Lama-Lama Geli di Perut
Khususnya bagi kita orang Aceh yang terkenal suka makan pedas, tentu makan di daerah Jawa ini butuh penyesuaian yang lama. Meskipun di Aceh ada makanan Jawa-nya, namun untuk cita rasa sudah disesuaikan dengan selera masyarakat Aceh.
Satu hari di sana, masih bisa toleransi makan pagi-siang-malam dengan menu yang super manis. Hari berikutnya, saya mulai kewalahan, “Oh, Tuhan. Adakah Go-Send yang bisa ngirim makanan dari Aceh ke Yogya. Atau Jini Oh Jini yang bisa nyulap makanan ini hingga ada rasa lain selain manis!”

Provinsi yang Masih Menggunakan Sistem Kerajaan
Pemilihan Gubernur Yogyakarta dipilih secara umum oleh rakyat tetapi berdasarkan urutan silsilah keluarga dari kraton Yogyakarta. Inilah satu-satunya provinsi yang masih menggunakan sistem kerajaan. Kekentalan budaya yang dimiliki oleh Yogyakarta dapat Anda temui di setiap sudut kotanya, mulai dari bangunan (rumah, toko, perkantoran), penulisan nama jalan dan toko dari bahasa sangsekerta (awalnya saya sempat bingung, itu bahasa apaan ya! terbelit-belit gitu), pakaian sehari-hari masyarakat masih banyak yang menggunakan gaya tradisional, makanan tradisional, hingga jenis souvenir yang sangat kental kekhasan budayanya. Sangat jelas, jika ke Yogyakarta, Anda sampai bingung harus membawa pulang oleh-oleh yang mana, karena jenisnya sangat beragam. Saya sampai bingung mau membeli oleh-oleh yang murah, terlihat mewah, namun berkesan. Karena semuanya pingin di borong, tetapi isi dompet memburuk.
Pasar Malioboro




Taman Sari, Yogyakarta. Mumpung lihat Babang Bule berdiri, langsung di jepret aja deh. Yang kenal dengan Bulenya, boleh di taq ya !!!





Kota Pelajar yang Super Ramai
Jika dilihat aktivitas kesehariannya, Kota Yogyakarta ini aktivitasnya hampir sama seperti Kota Banda Aceh. sama-sama super sibuk. Salah satu penyebabnya adalah karena ini kota pelajar tempat berkumpulnya banyak mahasiswa dari luar daerah. Nah, untuk hari libur panjang atau peringatan hari Idul Fitri, Yogyakarta hampir sama seperti Banda Aceh, sepi, sunyi, senyap. Kalau pagi, bisa tidur-tiduran di jalan raya.
Ssstt... yang membedakannya ada di dunia hiburan. Jika di Yogyakarta, Anda akan mudah menemui beragam tempat hiburan malam seperti diskotik. Kalau di Aceh, jangan coba-coba, bisa langsung di gulung tikar oleh masyarakatnya.

Kota yang Cocok buat Ngadem
Wuiihh... kota yang terkenal dengan kuliner Gudegnya ini, ternyata merupakan kota yang cocok buat ngadem. Jangan heran, pada saat saya menginap di studio Puskat, saya sempat bergumam dalam hati, “Kok gak ada AC? Kipas angin lah minimal!” nyatanya, tanpa pendingin ruangan, jam 02.00 malam, saya mulai kecarian selimut karena dinginnya luar biasa. Hmm.. maklumlah, sudah terbiasa di Aceh, sering kepanas-panasan. Hehe
Satu lagi peraturan yang membuat saya kagum luar biasa untuk kota budaya ini, yakni setiap warga diwajibkan untuk menanam pohon di halaman rumah dan di setiap toko juga. Dan ini adalah peraturan pemerintah yang wajib dilaksanakan. Mantap oooiiii....

Nge-Gojek seakan Penduduk Asli
Kata orang, kalau kita pergi melancong sendiri, hati-hati jangan sampai menunjukkan wajah meusangak-sangak (terkesima sampai mulut terbuka), karena itu bisa membahayakan keselamatan. Kejahatan bisa terjadi di mana saja asal ada kesempatan. 
Dari Studio Puskat saya pesan Gojek menuju Taman Sari, lalu ke Pasar Malioboro untuk nyegarin mata dengan oleh-oleh (cuma untuk dilihat-lihat saja, kantong sekarat). Mumpung punya waktu setengah hari, maka harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Sendiri pun jadi. Si Bapak Gojeknya ngajak ngobrol, yauda saya cuma “ngeh-ngeh saja” pura-pura paham apa yang diceritakannya.
Kembali ke studio, si Abang Gojek rupanya tidak sebegitu hafal jalan menuju Sleman. Si Dia tanyain ke saya, “Mba, Ntar naik jembatan, kan?” jawabanku semua “iya” padahal dalam hati sudah super was-was. Sedikit lagi sampai tujuan, si Abang Gojeknya beberapa kali salah masuk jalan, di situ baru saya bilang, “Maaf Mas, saya bukan orang asli sini!”

Aha... jadi di atas adalah beberapa peristiwa yang sulit dilupakan. Nah, buat Anda yang hanya duduk diam di tempat, so pasti kenangan-kenangan baru tidak akan pernah terciptakan.
Hmm.. saya mau kasih tips buat teman-teman yang suka travelling, yaitu jangan pernah takut untuk bepergian. Anda harus berani. Berfikir berlebihan yang negatif malah akan membuat Anda tidak bisa menikmati perjalanan. Waspada sekitar tetap ada karena hal itu untuk menghindari terjadinya kehilangan aset pribadi, termasuk diri kita sendiri.